29 Desember di peringati oleh warga Nahdlatul Ulama (NU) sebagai hari wafat KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU sekaligus ulama besar yang memiliki peran penting dalam sejarah Islam Nusantara dan perjalanan bangsa Indonesia. Peringatan ini menjadi momentum refleksi atas jasa, pemikiran, serta nilai perjuangan beliau yang hingga kini masih relevan di tengah dinamika sosial dan keagamaan.
Setiap tanggal 29 Desember, warga NU di berbagai daerah mengenang wafat KH Abdul Wahab Chasbullah dengan doa bersama, tahlilan, pengajian, serta kajian sejarah NU. Meski tidak selalu di peringati secara seremonial besar, makna spiritual dan historis dari peringatan ini tetap hidup di tengah masyarakat, terutama di lingkungan pesantren dan struktur NU.
Kiprah KH Abdul Wahab Chasbullah dalam Sejarah NU

KH Abdul Wahab Chasbullah lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 31 Maret 1888. Sejak muda, ia di kenal sebagai ulama yang visioner, kritis, serta aktif dalam gerakan keagamaan dan sosial. Bersama KH Hasyim Asy’ari dan para kiai lainnya, KH Abdul Wahab Chasbullah berperan penting dalam pendirian Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.
Selain terlibat dalam pendirian NU, KH Abdul Wahab Chasbullah juga berperan dalam menguatkan basis pemikiran Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia. Ia aktif mendorong pendidikan pesantren, dakwah moderat, serta peran ulama dalam kehidupan berbangsa. Oleh karena itu, wafatnya beliau pada 29 Desember 1971 menjadi kehilangan besar bagi umat Islam Indonesia.
29 Desember sebagai Momentum Refleksi Warga NU
Peringatan 29 Desember wafat KH Abdul Wahab Chasbullah tidak hanya di maknai sebagai agenda mengenang tokoh, tetapi juga sebagai sarana refleksi nilai perjuangan. Warga NU memandang bahwa semangat keilmuan, keberanian berpikir, serta kecintaan beliau terhadap bangsa perlu terus di wariskan kepada generasi muda.
Selain itu, momentum ini sering di gunakan untuk mengingat kembali peran ulama NU dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikian, peringatan 29 Desember menjadi pengingat bahwa perjuangan ulama tidak terpisah dari perjuangan kebangsaan.
Tradisi Peringatan Wafat Ulama di Lingkungan NU

Tradisi memperingati wafat ulama telah lama menjadi bagian dari budaya NU. Peringatan wafat KH Abdul Wahab Chasbullah biasanya di isi dengan tahlilan, pembacaan manaqib, serta kajian sejarah NU. Tradisi ini berfungsi sebagai media pendidikan sejarah dan penguatan identitas ke-NU-an.
Melalui kegiatan tersebut, warga NU berupaya menjaga kesinambungan sanad keilmuan dan nilai akhlak para pendahulu. Selain itu, tradisi ini juga memperkuat solidaritas sosial serta mempererat hubungan antara ulama dan masyarakat.
Relevansi Pemikiran KH Abdul Wahab Chasbullah di Era Kini
Pemikiran KH Abdul Wahab Chasbullah di kenal moderat dan kontekstual. Ia menekankan pentingnya menjaga tradisi Islam tanpa menutup diri terhadap perubahan zaman. Oleh sebab itu, banyak kalangan menilai bahwa gagasan beliau masih relevan dalam menghadapi tantangan globalisasi dan pluralitas masyarakat.
Dalam konteks kekinian, nilai-nilai tersebut tercermin dalam sikap NU yang konsisten menjaga toleransi, persatuan, serta keseimbangan antara agama dan budaya. Karena itu, peringatan 29 Desember wafat KH Abdul Wahab Chasbullah juga menjadi pengingat arah gerak NU ke depan.
Dokumentasi Sejarah dan Arsip NU
Dokumentasi sejarah KH Abdul Wahab Chasbullah tersimpan dalam berbagai arsip NU, buku sejarah Islam Nusantara, serta catatan pesantren. Arsip tersebut menjadi rujukan penting bagi generasi muda untuk memahami peran ulama NU dalam sejarah Indonesia.
Selain menjadi bagian dari ingatan kolektif warga NU, peringatan wafat KH Abdul Wahab Chasbullah pada 29 Desember juga berperan memperkuat literasi sejarah Islam Nusantara. Melalui kegiatan peringatan ini, generasi muda di ajak mengenal tokoh ulama pendiri NU sekaligus memahami kontribusi ulama dalam membangun kehidupan keagamaan dan kebangsaan di Indonesia.
Kesimpulan
Peringatan 29 Desember sebagai hari wafat KH Abdul Wahab Chasbullah memiliki makna mendalam bagi warga NU. Momentum ini tidak hanya mengenang sosok pendiri NU, tetapi juga menghidupkan kembali nilai perjuangan, keilmuan, dan kebangsaan yang di wariskan beliau. Dengan menjaga dan meneruskan semangat tersebut, NU di harapkan tetap mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri Islam Nusantara.